Selasa, 08 Januari 2013

TEORI EMILE DURKHEIM MENYANGKUT AGAMA


Teori Durkheim
Persoalan yang dikemukakan Durkheim melihat “sesuatu yang selalu hadir dimana bentuk-bentuk pemikiran dan praktek keagamaan yang paling esensial bergantung”, dan untuk melakukan hal ini dia merasa perlu mengkaji agama dalam “bentuknya yang paling primitive dan sederhana”, mencoba membahas sifatnya dan mengkaji asal-usulnya. Alasan Durkheim untuk memilih suatu system religi dalam masyarakat yang paling sederhana adalah agar ia lebih mudah meneliti unsure-unsur elementer dan konsep-konsep asasi dari religi itu, tanpa tergantung oleh konsep-konsep,mite-mite,dan keyakinan-keyakinan kompleks yang kemudian ditambahkan kepada konsep-konsep asasi itu oleh para pemuka agama, atau penganut-penganut lain dalam religi yang bersangkutan.
Bagi orang yang memandang agama hanya sebagai perwujudan aktivitas alamiah manusia, maka semua agama jadinya bersifat instruktif tanpa terkecuali: Masing-masing dengan caranya sendiri mengekspresikan nmanusia dan oleh karena itu mendapatkan pemahaman yang lebih baik menyangkut aspek alamiah kita. Disamping itu, kita telah melihat bahwa preferensi untuk mengkaji agama dikalangan masyarakat paling beradab (most civilized peoples) ternyata masih belum bias dikatakan sebagai metode terbaik.
Satu konsep yang biasanya dipandang menjadi karakteristik dari segala sesuatu yang religious adalah konsep supernatural. Yang supernatural adalah tatanan hal-ihwal yang berada diluar kemampuan pemahaman kita;yang supernatural adalah dunia misteri,yang tidak bias diketahui atau yang tidak bias ditangkap akal dan diserap indera. Maka agama menjadi semacam spekulasi terhadap segala sesuatu yang ada duluar sains atau akal sehat pada umumnya.
Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis.
Menurut Spencer, agama yang ajaran-ajarannya kadang saling berlawanan,diam-diam sepakat bahwa dunia dengan segala isi yang melingkupnya adalah sebuah misteri yang membutuhkan penjelasan;Spencer mengatakan pada dasarnya berisi “keyakinan akan adanya sesuatu yang maha kekalm yang berada duluar intelek.” Begitu juga dengan Max Muller,dia melihat seluruh agama sebagai “usaha untuk memahami apa-apa yang tak dapat dipahami dan untuk mengungkapkan apa yang tak dapat diungkapkan,sebuah keinginan kepada sesuatu yang tidak terbatas.”

2 komentar:

Anonim mengatakan...

makasih yach atas postingannya ^_^
berguna banget buat tugas sy ...hehehe...

visit back yach to my blog : fadil10.blogspot.com

Een Restiani Mahalina mengatakan...

iya sama2 :)