Teori
Durkheim
Persoalan
yang dikemukakan Durkheim melihat “sesuatu yang selalu hadir dimana
bentuk-bentuk pemikiran dan praktek keagamaan yang paling esensial bergantung”,
dan untuk melakukan hal ini dia merasa perlu mengkaji agama dalam “bentuknya
yang paling primitive dan sederhana”, mencoba membahas sifatnya dan mengkaji
asal-usulnya. Alasan Durkheim untuk memilih suatu system religi dalam
masyarakat yang paling sederhana adalah agar ia lebih mudah meneliti unsure-unsur
elementer dan konsep-konsep asasi dari religi itu, tanpa tergantung oleh
konsep-konsep,mite-mite,dan keyakinan-keyakinan kompleks yang kemudian
ditambahkan kepada konsep-konsep asasi itu oleh para pemuka agama, atau
penganut-penganut lain dalam religi yang bersangkutan.
Bagi
orang yang memandang agama hanya sebagai perwujudan aktivitas alamiah manusia,
maka semua agama jadinya bersifat instruktif tanpa terkecuali: Masing-masing
dengan caranya sendiri mengekspresikan nmanusia dan oleh karena itu mendapatkan
pemahaman yang lebih baik menyangkut aspek alamiah kita. Disamping itu, kita
telah melihat bahwa preferensi untuk mengkaji agama dikalangan masyarakat
paling beradab (most civilized peoples) ternyata masih belum bias dikatakan
sebagai metode terbaik.
Satu
konsep yang biasanya dipandang menjadi karakteristik dari segala sesuatu yang
religious adalah konsep supernatural. Yang supernatural adalah tatanan
hal-ihwal yang berada diluar kemampuan pemahaman kita;yang supernatural adalah
dunia misteri,yang tidak bias diketahui atau yang tidak bias ditangkap akal dan
diserap indera. Maka agama menjadi semacam spekulasi terhadap segala sesuatu
yang ada duluar sains atau akal sehat pada umumnya.
Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem
kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal
yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi
suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang
penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat
kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Agama
tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi
agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan
agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat
bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari
bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa
menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan
memiliki sifat yang historis.
Menurut
Spencer, agama yang ajaran-ajarannya kadang saling berlawanan,diam-diam sepakat
bahwa dunia dengan segala isi yang melingkupnya adalah sebuah misteri yang
membutuhkan penjelasan;Spencer mengatakan pada dasarnya berisi “keyakinan akan
adanya sesuatu yang maha kekalm yang berada duluar intelek.” Begitu juga dengan
Max Muller,dia melihat seluruh agama sebagai “usaha untuk memahami apa-apa yang
tak dapat dipahami dan untuk mengungkapkan apa yang tak dapat
diungkapkan,sebuah keinginan kepada sesuatu yang tidak terbatas.”
2 komentar:
makasih yach atas postingannya ^_^
berguna banget buat tugas sy ...hehehe...
visit back yach to my blog : fadil10.blogspot.com
iya sama2 :)
Posting Komentar